Sabtu, 17 Maret 2012

Unsur Intrinsik Novel Dalam Mihrab Cinta


BAB I
Pendahuluan

1.1           Latar Belakang
Memahami sebuah novel bukanlah hal yang mudah, apalagi kondisi mahasiswa sekarang jauh berbeda dengan mahasiswa zaman dahulu. Sekarang ini mahasiswa lebih tertarik pada hal-hal yang instan. Mahasiswa lebih suka dan tertarik pada suguhan atau tayangan televisi. Sungguhan dan tayangan televisi itu berupa sinetron maupun film yang kesemuanya memberikan pengaruh terhadap berkurangnya minat mahasiswa untuk membaca karya sastra atau mengapresiasi karya sastra.
Diangkatnya masalah “Mengidentifikasi Unsur Novel Dalam Mihrab Cinta” merupakan suatu upaya untuk meningkatkan motivasi kajian-kajian sastra pada diri mahasiswa, khususnya novel. Untuk tujuan itu, perlu kiranya diadakan pengkajian terhadap novel Dalam Mihrab Cinta sebagai salah satu dari kekayaan milik bangsa, sehingga nantinya novel tersebut memiliki kelayakan untuk dijadikan bahan ajar sastra. Kajian yang dilakukan semestinya dilakukan dari berbagai segi dan pendekatan. Setiap pengkajian tersebut bertujuan agar karya sastra itu dapat digunakan dengan lebih baik, sehingga dapat dinikmati dan diambil manfaat yang sebesar-besarnya.

1.2           Tujuan
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang struktur dan nilai-nilai dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy. Selain itu, secara operasional penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mendeskripsikan struktur yang membangun cerita dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy.
2.      Mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy.

1.3           Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan yang telah dikemukakan diatas, kemudian dapat disusun beberapa rumusan masalah dalam rencana penelitian ini. Adapun rumusan masalah dalam rencana penelitian ini adaah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah struktur novel yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy?
2.      Apa sajakah unsur-unsur intrinsic yang ada di dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy? 


BAB II

2.1           Sinopsis
Sinopsis novel adalah ringkasan cerita novel. Ringkasan novel adalah bentuk pemendekan dari sebuah novel dengan tetap memperhatikan unsur-unsur intrinsik novel tersebut.
Sinopsis dalam novel ini adalah
Seorang laki-laki yang bernama Syamsul yang ingin menjadi santri dan merantau ke Kediri untuk mencari pesantren yag bisa melompat tingkat kejenjang yang lebih tinggi. Ketika di stasiun, ia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Zizi (Zidna Ilma), dan Zizi merekomendasikan tiga pesantren yang menurutnya bagus. Salah satunya adalah pesantren Al-Furqan, yaitu pesantren yang didirika oleh almarhum ayahnya, K.H Baejuri.
            Dan Syamsulpun diterima di pesantren Al-Furqan. Ketika itu temannya yang bernama Burhan iri kepada Syamsul, karena Burha mengira wanita idamannya, Zizi menyukai Syamsul. Dan Burhanpun memfitnah Syamsul. Ia menyuruh Syamsul mengambil dompetnya dikamar, setelah di ambil oleh Syamsul ternyata pihak keamanan mendapatkan Syamsul sedang mengambil dompet Burhan. Syamsulpun langsung digiring menuju gudang dan ia dihajar oleh santri-santri lainnya.
            Ketika dia ditanya oleh Kiai Miftah, apakah benar dia yang mengambil dompet Burhan, dan Syamsul menjawab memang benar dia yang mengambil dompet Burhan, dan itu disuruh oleh Burhan. Ketika Kiai Miftah bertanya kepada Burhan, Burhan menjawab tidak, dia tidak pernah menyuruh Syamsul untuk mengambil dompetnya. Syamsul berani bersumpah, bahwa Burhanlah yang menyuruhnya. Ketika Kiai Miftah menyuruh Burhan untuk bersumpah, dia tidak langsung bersumpah, tetapi ia berkata “Penjahat akan melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak Kiai. Baiklah saya bersumpah bahwa apa yang baru saja saya katakana benar. Jika saya berdusta maka semoga segala laknat menimpa saya”
            Keesokan harinya Syamsul digiring ke tengah halaman pondok pesantren untuk digunduli rambutnya. Ketika orang tua Syamsul (Pak Bambang) datang, ia sangat syok mendengar berita itu. Iapun langsung membawa Syamsul pulang. Ketika dirumah, Syamsul dikucilkan oleh keluarganya, tetapi Ibu dan adiknya yaitu Nadia tidak mempercayai kabar tersebut.
            Besoknya ketika Nadia masuk kekamar Syamsul, ia tidak melihat Syamsul di dalam kamarnya, dan Nadia menemukan sebuah surat yang ditulis oleh Syamsul. Nadia Syok dan berteriak memanggil Ibu dan Ayahnya. Ibu Syamsul tidak kuat menahan tangis, sedangkan Ayahnya terlihat seperti biasa saja.
            Syamsulpun tiba di Kota Semarang, ketika ia sedang makan diwarung kaki lima, ia melihat isi dompetnya tinggal Rp 10.000, karena perutnya tak bisa lagi menaha lapar, ia pun melakukan aksi mencopetnya pada seorang gadis yang berada di dalam bus mini. Tetapi aksinya itu ketahuan oleh gadis itu, dan akhirnya ia di kejar-kejar oleh warga dan akhirnya ia tertangkap oleh polisi dan di masukan ke penjara. Tetapi adiknya, Nadia telah membantu syamsul keluar dari penjara dengan syarat Syamsul harus pulang ke Pekalongan, tetapi setiba di perjalanan Syamsul malah melarikan diri ke Jakarta. Itu sangat membuat adiknya sedih.
            Saat di Jakrta ia menuju sebuah mushalla dan dia bertemu ketua RT di sana, dan dia di tawari untuk tinggal di sebuah rumah petak, dan untuk sementara Syamsul akan tinggal di rumah itu. Keesokan harinya ia mencari kerja kesana-kemari, tetapi ia ditolak. Dan saat dilihat dompetnya, hanya bersisa Rp 10.000, dan itu tidak akan cukup untuk menhidupi dirinya. Karena terdesak oleh perekonomiannya, ia meakukan aksi jahatnya lagi yaitu mencopet, salah satu dompet yang ia copet adalah bernama Silvie.
            Sekarang Syamsul bekerja dirumah Pak Broto, mengajar si kecil Della mengaji. Della juga mempunyai guru privat Matematika yang sangat cantik dan anggun sekali, yaitu mbak Silvie, ya Silvie seorang gadis yang pernah ia copet dompetnya. Suatu malam ia bertobat kepada Allah atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Sekarang pihak pesantren telah mengetahui siapa pelaku pencurian yang selama ini meresahkan santri-santri. Yaitu Burhan, dia yang selama ini telah mencuri barang-barang yang ada disana.
            Suatu ketika Syamsul diminta oleh pengurus masjid untuk berceramah di masjid itu, dan Syamsulpun menerima tawaran itu. Ia berceramah tentang “”. Setelah selesai, ada seorang bapak-bapak yang menghampiri dirinya untuk menawarkan Syamsul berceramah di acara TV nya. Syamsulpun tidak menolak penawaran baik itu. Saat ini Syamsul disibukkan oleh jadwal untuk berceramah di beberapa tempat. Dan dompet yang telah ia copet selama ini telah ia kembalikan kepada pemilik dompet itu beserta uang-uangnya.
            Suatu malam Burhan pergi ke kediamannya Silvie untuk melamarnya, tetapi Silvie menolaknya karena Silvie sudah tahu kebusukan yang ada di dalam hati Burhan. Keesokan harinya Pak Heru dan Bu Heru pergi kerumah Syamsul yang kebetulan dirumahnya sedang ada Bu Bambang dan Pengurus Pesantren lainnya  termasuk Zizi. Ketika Zizi hendak pulang, iya kelupaan untuk membawa tasnya. Ia memutuskan untuk mengambilnya dan ditemani oleh Nadia. Ketika Zizi sampai di depan pintu rumah Syamsul, ia mendengar pembicaraan yang sedang berllangsung di dalam. Yaitu Pak Heru ingin menjodohkan anaknya dengan Syamsul. Zizi shock lalu meninggalkan tempat itu.
            Persiapan pernikahan pun telah disiapkan oleh Silvie dan Syamsul. Susatu hari Silvie ingin memberikan undangan kepada Bude dan saudaranya yang berada di Bogor, Ibu Silvie menyarankan untuk di paketkan saja undangan itu. Tapi Silvie tidak mauu dan ia hanya mau mengantarkan undangan itu sendiri sekalian silahturahmi pada Budenya. Di perjalanan Silvie meminta izin pada Syamsul melalui telepon genggam bahwa Silvie hendak ke Bogor mengantarkan undangan kerumah Budenya. Tiba-tiba ada sepeda motor yang melintas di depan mobil Silie, ia langsung membanting stir hingga menabrak sebuah gubuk. Bu Heru tidak percaya mendengar bahwa Silvie kecelakaan. Dikediaman Silvie telah banyak berkumpul banyak orang. Dan Pak Heru meminta Syamsul untuk menikahi jenazah Silvie, dan seorang ustad berkata bahwa sekarang Silvie sudah tenang dan jangan memaksa calon suaminya untuk menikahi Silvie.
            Semenjak kepergian Silvie, Syamsul sering melamun dirumahnya. Dan suatu saat Zizi datang kerumah Syamsul saat Syamsul sedang melamun di meja makan. Keesokan harinya Kiai Miftah datang menemui Syamsul dan Ibu Syamsul untuk melamar Zizi. Dan akhirnya Syamsul pun menerima lamaran dari Kiai Miftah dengan mengucapkan basmallah. Dan menanyakan Syarat-syarat apa yang harus Syamsul laksanakan, dan Zizi berkata, tidak memiliki Syarat apapun.

2.2           Tema
Tema adalah sesuatu yang menjiwai cerita atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
Teama yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta adalah Religi dan Percintaan.

2.3           Alur Cerita
Rangkaian cerita yang disusun secara  runtut.  Alur cerita bisa maju maupun mundur.
Alur yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta adalah alur maju.

2.4           Penokohan
Adalah gambaran sifat/watak tokoh cerita. Berdasarkan sifatnya, tokoh cerita cerita ada dua, antagonis dan protagonist. Antagonis  adalah tokoh jahat, sedangkan protagonist adalah tokoh yang bersifat baik. 
            Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta adalah
a.       Syamsul
-          Nekat
Yang terdapat dalam kalimat “Ia tidak mau sama dengan ayahnya dan kedua kakaknya yang semuanya sukses sebagai pedagang batik. Ia ingin sukses dijalur yang berbeda. Karena itulah meskipun ayahnya tidak setuju dengan keputusannya, ia tetap nekat melangkahkan kakinya menentukan takdirnya sendiri
-          Tidak pantang menyerah
Yang terdapat dalam kalimat “Pelajarannya ternyata jauh lebih sulit. Tetapi ia tidak menyerah”

b.      Zizi (Zidna Ilma)
-          Baik hati
Yang terdapat dalam kalimat “Saya bukan siapa-siapanya Syamsul saja percaya Syamsul tidak bersalah”

c.       Silvie
-          Baik hati
Yang terdapat dalam kalimat “Silvie tidak bisa menolak keinginan Della. Ia mengangguk sambil tersenyum”
-          Keras Kepala
Yang terdapat dalam kalimat “Sungguh saya tidak akan pulang, saya akan tetap berdiri di depan pintu ini sampai ustadz menyatakan bersedia”

d.      K.H Baejuri
-          Adil
Yang terdapat dalam kalimat “Kalaupun ada harta yang masih ada, cobalah kau musyawarahkan dengan kakakmu Miftah untuk mendermakannya di jalan Allah”
-          Tidak pernah marah
Yang terdapat dalam kalimat “Ia dikenal sebagai ulama yang tidak pernah marah pada santrinya”
-          Lembut
Yang terdapat dalam kalimat “Perkataannya lembut dan manis, membuat siapa saja suka mendengarnya”

e.       Pak Bambang (Ayah Syamsul)
-          Pemarah
Yang terdapat dalam kalimat ““Aku sudah tidak percaya lagi sama anak berengsek iu!” jawab Pak Bambang marah”
-          Bijak
Yang terdapat dalam kalimat “Sudahlah, kesaahan yang lalu jangan terus diungkit. Lebih baik, kita berhati-hati supaya dimasa depan tidak terjadi kesalahan yang sama. Kita jadikan ini semua sebagai pelajaran berharga”

f.       Kiai Miftah
-          Ceroboh
Yang terdapat dalam kalimat “Ia sangat menyesal melakukan tindakan menzalimi orang yang tidak bersalah”

g.      Zaim
-          Ramah
Yang terdapat dalam kalimat “Syamsul sangat terkesan dengan sambutan ketua pengurus bernama Zaim itu”

h.      Ayub
-          Pengertian
Yang terdapat dalam kalimat “Ia merasa yang paling mengerti keadaannya dan besar perhatian padanya adalah Ayub dari Banjarmasin”

i.        Burhan
-          Angkuh
Yang terdapat dalam kalimat “Dalam beberapa hal, memang Burhan Nampak angkuh”
-          Pilih-pilih teman
Yang terdapat dalam kalimat “Ia pilih-pilih teman. Hanya orang-orang yang ia anggap penting dan ia anggap dari golongan sepadan dengan dirinya yang ia akrabi”
-          Pintar mengambil hati
Yang terdapat dalam kalimat “Dia paling pintar  mengambil hati pengurus pesantren”

j.        Bu Bambang (Ibu Syamsul)
-          Sabar
Yang terdapat dalam kalimat “Hanya saja dalam hati Bu Bambang berdoa semoga Syamsul anaknya baik-baik saja dan mau pulang kembali”

k.      Nadia (Adik Syamsul)
-          Baik Hati
Yang terdapat dalam kalimat “itu tidak penting kak. Saya ingin kakak berubah lebih baik dan Nadia akan selalu menganggap kak Syamsul sebagai kakak Nadia”

l.        Della
-          Periang
Yang terdapat dalam kalimat “Dela langsung masuk dengan berlari dan berteriak “Hore aku punya ustadz pintar nyanyi””

m.    Pak Broto
-          Baik hati
Yang terdapat dalam kalimat “Pak Broto yang tidak pernah hitungan kalau membantu”

n.      Damayanti
-          Penyabar
Terdapat dalam kalimat “Insya Allah tidak mbak, pengalaman ini akan saya jadikan pelajaran hidup bagi saya, yang artinya Allah masih sayang sama saya.”

o.      Razak (Kakak Syamsul)
-          Pemarah
Yang terdapat dalam kalimat ““Kamu itu masih bau kencur. Tahu apa masalah dunia criminal, Nadia!” sengit Razak”

p.      Pak Heru
-          Pelit
Yang terdapat dalam kalimat “Hanya saja Pak Heru sedikit pelit kalau  membantu masjid”

q.      Dody Alpad
-          Baik
Yang terdapat dalam kalimat “Yang menilai kan orang lain ustadz. Ceramah ustadz bagus kok”

2.5           Latar

Tempat dan waktu terjadinya cerita

·         Stasiun Pekalongan
Terdapat dalam kalimat “Becak itu memasuki stasiun Pekalongan”
·         Kereta api
Terdapat dalam kalimat “Pemuda itu sampai di gerbong empat. Ia mencari tempat duduk no 8C”
·         Pesantren Al-Furqan
Terdapat dalam kalimat “Pesantren itu dikelilingi tembok putih, Syamsul masuk dari gapura utama”
·         Kamar khusus para tamu
Terdapat dalam kalimat “Ia beranjak mengikuti Zaim yang membawanya  ke kamar khusus tamu”
·         Masjid  pesantren Al-Furqan
Terdapat dalam kalimat “Ia ingin merasakan shalat berjamaah. Masjid tua itu penuh oleh para santri”
·         Warung mie godog
Terdapat dalam kalimat “Ia memutuskan untuk makan di warung itu sambil bertanya banyak hal tentang pemilik warung tentang Al-Furqan”
·         Kamar santri
Terdapat dalam kalimat “Syamsul melangkah tenang ke kamarnya, ia langsung menuju lemari Burhan”
·         Gudang
Terdapat dalam kalimat “Syamsul terus dihajar sambil diseret menuju gudang. Ia dipukul dan digebuk habis-habisan seperti anjing kurap masuk kampung dan tertangkap. Akhirnya ia dilempar ke gudang”
·         Halaman pondok
Terdapat dalam kalimat “Sore itu juga Syamsul di ambil dari gudang. Di halaman podok telah disiapkan kursi yang diletakkan di tengah garis melingkar. Syamsul digiring dan di dudukkan di kursi itu”
·         Ruang tamu pesantren
Terdapat dalam kalimat “Jam sebelas malam orang tua Syamsul datang. Kiai Miftah menemui di ruang tamu pesantren”
·         Kamar Syamsul
Terdapat dalam kalimat “Syamsul istirahat di kamarnya dengan mata berkaca-kaca”
·         Kota Semarang
Terdapat dalam kalimat “Sudah satu minggu Syamsul pergi dari rumah. Ia mengelana di kota Semarang”
·         Masjid Baiturrahman
Terdapat dalam kalimat “Siang itu ia baru saja selesai shalat zuhur di masjid Baiturrahman, Simpang Lima, Semarang”
·         Pasar Johar
Terdapat dalam kalimat “Ia pergi ke pasar Johar, ia menawarkan diri untuk menjadi buruh panggul di pasar Johar, tetapi ia di tolak”
·         Bis mini warna kuning
Terdapat dalam kalimat “Ia naik bis mini warna kuning jurusan Mangkana-Panggaron”
·         Kantor polisi
Terdapat dalam kalimat “Syamsul babak belur itu digelandang oleh polisi ke kantor polisi”
·         Di dalam sel Polsek Semarang Tugu
Terdapat dalam kalimat “Sejak tertangkap itu, Syamsul mendekam di penjara Polsek Semarang Tugu”
·         Lebak Bulus
Terdapat dalam kalimat “Bus itu sampai di terminal Lebak Bulus, tepat saat azan subuh selesai dikumandangkan”
·         Masjid kecil berwarna hijau
Terdapat dalam kalimat “Dan ia menemukan masjid  kecil berwarna hijau. Ia masuk masjid itu dan merebahkan tubuhnya”
·         Rumah Petak
Terdapat dalam kalimat “Malam itu ia membersihkan rumah petak itu”
·         Kafe di pinggir jalan Parung
Terdapat dalam kalimat “Syamsul masuk dan menemui  manager kafe itu”
·         Restaurant yang khusus menjual ayam goreng
Terdapat dalam kalimat “Ia memasuki restaurant itu dan mengajukan diri untuk bisa bekerja disitu”
·         Dibawah pohon di pinggir jalan
Terdapat dalam kalimat “Ia duduk dibawah ebuah pohon di pinggir jalan”
·         Kopaja
Terdapat dalam kalimat “Ia berdiri dan bergegas  mencegat kopaja. Ia naik Kopaja yang sesak penumpang”
·         Villa Gracia
Terdapat dalam kalimat “Ia kembali balik arah ke Villa Gracia”
·         Jalan Flamboyan
Terdapat dalam kalimat “Lalu dengan mantap ia mermarkir sepeda motornya di depan rumah di jalan Flamboyan No.17”
·         Masjid Baitul Makmur
Terdapat dalam kalimat “Syamsul meninggalkan rumah itu dan pergi ke Masjid”
·         Perpustakaan di Sekolah Tinggi Agama Islam Daarud Dakwah
Terdapat dalam kalimat “Didalam perpustakaan ia hanya menjumpai satu orang saja yang sedang sibuk membaca sebuah kitab berbahasa Arab”
·         Rumah keluarga Syamsul di Pekalongan
Terdapat dalam kalimat “Siang itu Kiai Miftah dan Zizi di temani lurah Pondok datang ke rumah keluarga Syamsul di Pekalongan”
·         Wartel
Terdapat dalam kalimat “Begitu Pak Heru pergi, Syamsul langsung lari ke wartel untuk memastikan kabar itu”
·         Rumah Silvie
Terdapat dalam kalimat “Burhan dan keluarganya sampai dirumah Silvie”
·         Masjid Al-Firdaus Jagakarsa
Terdapat dalam kalimat “Sejurus kemudian sedan itu sudah meluncur di jalan raya menuju Masjid Al-Firdaus Jagakarsa, dimana tabligh akbar diadakan”
·         Ruang tamu rumah Syamsul
Terdapat dalam kalimat “Pembicaraan di ruang tamu rumah Syamsul berlangsung hangat”
·         Kamar Silvie
Terdapat dalam kalimat “Di dalam kamar sebuah rumah mewah di illa Gracia, Parung, Nampak Silvie sedang sujud di balut mukena putihnya”
·         Butik busana muslim
Terdapat dalam kalimat “Syamsul diminta Silvie untuk datang kesebuah butik busana muslim di daerah  Kemang, Jakarta Selatan”
·         Meja makan
Terdapat dalam kalimat “Bu Bambang melihat Syamsul masih melamun di meja makan”
·         Teras Rumah
Terdapat dalam kalimat “Pagi itu Syamsul  sedang membaca Koran di teras rumahnya”
·         Auditorium Pesantren Marabi’ul Qur’an
Terdapat dalam kalimat “Wajah-wajah cantik dan anggun berbalut jjilbab itu menyemut memenuhi Auditorium Pesantren Manabi’ul Qur’an”

2.6           Diksi
Diksi, dalam arti aslinya, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara.
Di dalam novel Dalam Mihrab Cinta  terdapat banyak kata-kata yang menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa.
Terdapat dalam kalimat:
-          “Tenang mbak. Ojo wedi! Jangan takut.”
-          Podho-podho dihakimi massa. Iya tooo?!”
-          “Benjote yo podho…larane yo podho…!”
-          “Hei ari-arine Neng Nur Fadhilah mereneo. Aku wis nunggu sliranmu!”


2.7           Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Di dalam novel ini amanat yang dipergunakan adalah secara implisit yaitu pengarang mengemukakan pesannya secara tidak langsung.
Amanat yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta adalah jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, dan jangan pernah menghakimi seseorang dengan semena-mena. Harusnya diselidiki terlebih dahulu apakah orang itu benar-benar bersalah atau  tidak. Dan sebagai orang tua, harusnya bisa lebih percya dengan anaknya sendiri.

2.8           Berakhir/Ending
Ending adalah impresi klimaks dari sebuah novel.
Akhir dari cerita ini adalah duka cita. Karena wanita yang didambakan Syamsul yaitu Silvie meninggal dunia. Dan setelah itu  ternyata Zizi melamar Syamsul. Dan akhirnnya mereka menikah, dan berakhir dengan kebahagian.

  
BAB III
3.1 Kesimpulan
Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, dan jangan pernah menghakimi seseorang dengan semena-mena. Harusnya diselidiki terlebih dahulu apakah orang itu benar-benar bersalah atau  tidak. Dan sebagai orang tua, harusnya bisa lebih percya dengan anaknya sendiri.
Selain itu dengan adanya makalah ini, kita telah mengetahui unsure-unsur apa saja yang terdapat dalam novel Dalam Mihrab Cinta karya Habiburrahman El-Sharizy

3.2 Saran
Saran dari saya adalah, seharusnya setiap ada bahasa Jawa, terdapat catatan kaki yang menjelaskan apa arti tentang dari bahasa Jawa tersebut. Karena tidak semua pembaca mengerti bahasa Jawa.


Daftar Pustaka

Pedoman Umum  Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
           , dan Anton M. Moeliono, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2003.
El-Shirazy, Habiburrahman. Dalam Miheab Cinta. Jakarta: Ihwah Publishing. 2010.

1 komentar: