Senin, 12 Maret 2012

Jurnal Bahasa

 

PENERAPAN ILMU BAHASA INDONESIA PADA MASYARAKAT PEDALAMAN: KAJIAN LINGUISTIK MASYARAKAT PETANI DI JAWA

Vinda Rizki Maishella
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unimed
Jln.Williem Iskandar Pasar V Medan 20221


Abstrak
Studi ini menjelaskan kearifan lokal masyarakat pedalaman yang tercermin dalam ekpresi mereka dan kategori linguistik bahasa Jawa. Sampel penelitian ini adalah petani di Jawa. Studi ini menunjukkan bahwa berdasarkan ekspresi linguistik Jawa dan kategori, ada sebuah mitos petani Jawa diwakili dalam upacara ritual padi pra-perkebunan pantulan terima kasih kepada dewa "Dewi Sri". Mitos ini masih terkandung dalam mendaftar "Wiwitan" yang dikelola oleh pemimpin upacara. Aset budaya orang Jawa layak merupakan kristalisasi membedakan lokal yang telah tertutup dalam ekspresi bahasa Jawa dan kategori.
Kata kunci: pedalaman, bahasa Jawa, ekspresi linguistic, mitos.


1. Pendahuluan
Kajian linguistik terhadap bahasa yang digunakan manusia tampak tidak ada henti karena bahasa terus berkembang sesuai dengan perkembangan manusia beserta daya pikirnya. Objek kajian linguistik pun semakin melibatkan berbagai aspek di luar bahasa. Aspek yang dimaksud adalah kosa kata, struktur, satuan lingual, makna, maksud, asal usulnya, pelestarian, dan penggunaannya.
Penutur bahasa bermakna dan mengacu pada suatu peristiwa, tindakan, benda, dan keadaan. Peristiwa yang terjadi, misalnya, tidak lepas direaliasasikan dengan bahasa dan mencerminkan pikiran dengan bahasa karena masyarakat akan selalu menggunakan bahasa dalam menyampaikan pikiran dan gagasan yang mengiringi tindakannya. Demikian halnya dalam pengungkapan peristiwa budaya dan semua aspek kehidupan, penutur bahasa
mendayagunakan potensi bahasa. Petani sebagai komunitas penutur bahasa mempergunakan bahasa Jawa yang bermakna baginya. petani menggunakan ungkapan yang terkait dengan peristiwa budaya yang berada di daerah mereka. Inti penelitian ini adalah tentang manusia dan nilai-nilai kemanusiaan (humanity values).
Sebagaimana galibnya, masyarakat tradisional kita selalu mengutamakan persaudaraan, kebersamaan, kerja sama, gotong royong, saling menghormati dan saling berbagi (share). Hal-hal itu di masa sekarang ini dirasakan semakin langka karena lebih menonjol individualisme dan kurangnya perhatian terhadap ekologi, bukan hanya ekologi alam tetapi juga ekologi sosial dan ekologi pikir.
Untuk tujuan di atas perlu dikumpulkan fakta tentang berbagai aspek kebudayaan yang bersifat mental-pola pikir, tentang pandangan dunia; kesetiakawanan sosial, dan rasa santun untuk saling menghormati. Di samping itu juga aspek kebudayaan yang bersifat material seperti bentuk-bentuk pertanian, kenelayanan, alat-alat yang digunakan, kalender tradisional yang mengatur pola kerja tahunan, musiman, bulanan, dan harian. Pusat perhatian utamanya adalah pada bahasa dan pola budaya.
Terdapat ungkapan petani berupa satuan lingual kata yang cukup menarik, misalnya, ndhaut ‘mencabut bibit dari persemaian untuk ditanam di sawah yang sudah disiapkan”, mendut ‘makanan khas yang terbuat dari tepung ketan, santan, gula merah, dan kelapa parut yang dibungkus daun dengan berbentuk kerucut’, sagon ‘jenis makanan khas (yang hanya dibuat pada peristiwa budaya rasulan) yang terbuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula pasir’ , damen ‘pohon padi’, brambut/rambut ‘sekam’, dhedhak ‘bubuk kulit yang kasar’, katul ‘bekatul’, gabah ‘biji padi’, menir ‘potongan beras yang halus’, beras ‘beras’, dan oyot ‘akar’.
Pengertian tersebut perlu diperluas dan ditata ulang agar lebih sesuai karena saat ini penduduk desa sebenarnya sudah banyak yang mengenal tulisan. Di samping itu, perlu dipertimbangkan bahwa pengertian tersebut tidak dapat dilepaskan dengan istilah lain seperti etnologi. Etnologi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 309) adalah ilmu tentang unsur atau masalah kebudayaan suku bangsa dan masyarakat penduduk suatu daerah di seluruh dunia secara komparatif dengan tujuan mendapat pengertian tentang sejarah dan proses evolusi serta penyebab kebudayaan umat manusia di muka bumi. Pengertian tersebut juga didukung oleh pendapat Troike (1990: 1) mengenai etnografi bahwa etnografi adalah bidang studi yang bersangkutan terutama dengan deskripsi dan analisis budaya, dan linguistik adalah bidang yang bersangkutan, antara lain, dengan deskripsi dan analisis kode bahasa.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa etnolinguistik merupakan studi linguistik yang menyelidiki bahasa kaitannya dengan budaya suku bangsa di manapun berada dalam subkajian antropologi. Oleh karena itu, kajian etnolinguistik tidak terbatas pada bahasa suku bangsa yang tidak mempunyai tulisan tetapi yang sudah mempunyai tulisan pun dapat dikaji. Spradley (dalam Elizabeth, 1997: 140) berpendapat bahwa setiap bahasa mempunyai banyak istilah penduduk asli yang digunakan oleh masyarakat untuk merujuk hal-hal yang mereka alami dan nama benda yang ada di sekitar mereka.
Kategori dan ekspresi linguistik yang dimaksud dibatasi pada kosa kata bahasa Jawa yang digunakan dalam satu peristiwa yang dilakukan oleh petani dalam satu kurun waktu tertentu, misalnya, pemakaian kosa kata khusus terkait dengan pertanian atau nelayan di daerah tertentu. Walaupun kebudayaan masyarakat Jawa pada umumnya sudah diungkapkan oleh pelopor antropologi Indonesia, yakni Koentjaraningrat (1980), studi yang khusus membahas bahasa dan budaya masyarakat petani belum dilakukan.
Di daerah terpencil serupa itu terdapat peristiwa budaya yang cukup menarik, yang hingga saat ini perlu dilestarikan. Tampaknya, budaya yang terkait dengan kearifan lokal semacam itu sulit ditinggalkan masyarakat. Peristiwa budaya mengandung kearifan local masyarakat.
Data bahasa ini berkaitan erat dengan kebudayaan yang umumnya dikuasai secara bawah sadar atau nirsadar di kalangan masyarakat (petani) sehingga dapat begitu saja mengatur pola tingkah laku anggota masyarakat. Yang juga sangat menarik bahwa pengetahuan tradisional itu dipatuhi sebagai “aturan” misalnya tingkah laku baik secara umum maupun tingkah laku khusus dalam berperilaku, seperti dalam berbicara, berbusana, karya seni, berunding, melakukan ritual kehidupan berbagi kesedihan (kematian), atau kegembiraan (kelahiran atau perkawinan).
Penelitian semacam ini amat bermanfaat karena dengan data kebahasaan yang ada dapat ditelaah tentang banyak hal mengenai peri kehidupan tradisional: pola pikir, pandangan dunia, pola interaksi antara manusia dan dengan alam, dan pengelolaan produksi dan niaga, bahkan dapat ditemukan pola spiritualitas masyarakat.

2. Metode Penelitian
Semakin disadari bahwa bahasa merupakan manifestasi terpenting dari kehidupan mental penuturnya. Bahasa juga merupakan piranti untuk mengklasifikasikan pengalaman. Oleh karena itu, keragaman bahasa yang ada dapat dipahami jika peneliti dapat mengklasifikasikan pengalaman manusia secara berbeda. Seringkali hal ini kurang disadari oleh para penutur bahasa. Dengan demikian, seperti diungkapkan Palmer (1999), pengklasifikasian pengalaman manusia dapat tercermin melalui system tata bahasanya. Pengklasfikasian pun mempunyai keterkaitan pula dengan masalah psikologis penuturnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan metode etnografi (Spradley dalam Elizabeth 1997). Penelitian ini berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan secara rinci bentuk satuan lingual ungkapan petani Jawa beserta maksud ungkapan tersebut berdasarkan konteks sosial budaya. Ungkapan beserta maksud itu juga dikaitkan dengan dan budaya yang ada pada daerah yang menjadi lokasi penelitian. Ungkapan yang dimaksud adalah ungkapan atau bahasa Jawa yang digunakan oleh petani di desa Japanan, kecamatan Cawas, kabupaten Klaten. Pendeskripsian itu diidentifikasi dan diklasifikasi sesuai dengan penggunaannya dan peristiwa yang dilakukan oleh pengguna bahasa tersebut. Selanjutnya ungkapan petani dijelaskan kaitannya dengan peristiwa tradisi yang dilakukan oleh petani atau masyarakat penggunanya.
Pada prinsipnya hipotesis itu menjelaskan bahwa pandangan dunia suatu masyarakat bahasa ditentukan oleh struktur bahasanya. Pada mulanya, perhatian itu tertuju kepada keterkaitan antara bahasa dan cara pandang dunia dari penuturnya dan yang kebanyakan terlihat dalam tata bahasa (gramatikanya). Selain itu, dapat pula diamati melalui pemakaian kosa katanya.
Kategori dan ekspresi linguistik khususnya tutur lisan yang masih hidup di kalangan komunitas petani atau nelayan Jawa, di dalamnya terdapat cara pandang dan pola pikir kolektif yang dihasilkan melalui komunikasi masyarakat etnik seperti yang terekam dan diolah melalui sistem tata bahasanya. Berdasarkan relasi antarunit lingual berupa kosakatanya (leksikon) yang ditemukan dalam bahasa tertentu, terbentuklah wacana seperti halnya yang ditemukan pada mitos yang masih hidup di kalangan masyarakat sehari-hari (www.kompas .com12 Maret 2008.). Di samping itu, baik melalui leksikon maupun sistem tata bahasa yang terdapat di dalam mitos terlihat pola pikir masyarakatnya. Dalam beraneka ragam wacana seperti yang terdapat dalam mitos, tercermin (melalui leksikon dan sistem tata bahasanya) pandangan dunia dan pola pikir suatu masyarakat, baik yang tersirat maupun tersurat.
Dikemukakan oleh Malinowski (via Koentjaraningrat, 1980) bahwa fungsi bahasa sebagai salah satu anasir kebudayaan adalah kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan sekunder warga dalam suatu masyarakat. Dikemukakannya pula, bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manuisa yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya (Koentjaraningrat, 1980:171).
Terkait dengan konsep pola pikir, diacu sejumlah pendapat di antaranya yang diungkapkan Casson (1981), bahwa bahasa atau lebih tepatnya struktur bahasa dapat membentuk pola berpikir penutur-penuturnya. Melalui pemakaian kata, sekelompok orang dapat dilihat dan dimengerti bagaimana mereka memandang dan mengonsepsikan lingkungan atau dunianya, misalnya melalui cara mengonsepsikan dunia binatang dan tumbuhan. Dengan demikian, cara sekelompok orang mengonsepkan atau melihat dunianya dapat diamati melalui struktur dan organisasi kategori konsep pada sistem klasifikasi taksonomi. Dengan demikian, pola pikir adalah inferensi atau integrasi kategori konsep yang diperoleh melalui tindak klasifikasi yang hasilnya merupakan bentuk skemata (Casson (1981). Sesuai dengan penjelasan itu, dapat disimpulkan bahwa pola pikir meliputi model, cara, gagasan, dan proses yang dipakai sebagai pedoman, kesimpulan, dan bentuk konsep (Nasution, 2004).
Konsep-konsep pemikiran mengenai teori fungsional, yaitu semua unsur kebudayaan tempat unsur itu terdapat yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat yang memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan yang bersangkutan.

3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan analisis data yang terkumpul, ungkapan petani Jawa hanya terdiri atas satuan lingual kata dan frasa. Satuan lingual kata merupakan satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terjadi dari morfem bebas dan atau gabungan morfem bebas dan terikat. Satuan lingual kata yang terdapat dalam ungkapan petani Jawa berjumlah 170 kata. Contoh kata yang dimaksud antara lain mangsa ‘musim’, rong ‘ceruk’, ngerong ‘nyeruk’, damen ‘batang padi’, nela ‘tanah yang merekah karena kering’, randu ‘randu’, pelem ‘mangga’, kunir ‘kunyit’, jahe ‘jahe’, jagung, dhele ‘kedelai’, pohong ‘ketela pohon’, tela ‘ubi jalar’, nggarap ‘mengolah’, mateng ‘masak’, ngundhuh ‘memanen’, pinihan ‘tempat untuk menyemai benih’, kapitu ‘musim ketujuh’, tandur ’menanam padi’, uret ‘larva’, jangkrik ‘jangkrik’, netes ‘menetas’, rendhengan ‘musim penghujan’, bera ‘sawah yang tidak ada tanamannya sama sekali’, gabah ‘butir padi yang sudah lepas dari tangkainya tetapi masih ada kulitnya’, ganyong salah satu jenis umbian yang rasanya manis’, katul ‘bekatul’, menir ‘beras yang lembut’, ketan ‘beras pulut’, luku ‘bajak’, garu ‘bajak’, dhedhak ‘sekam yang lembut’, dan katul ‘bekatul’. Di samping beberapa contoh kata di atas terdapat kata ulang yang berjumlah lima, yakni ngenyek-enyek menginjak-injak sawah yang sudah dibajak agar tanah siap ditanami, wong-wongan orangorangan sawah’, disuwir-suwir ‘diurai’, aniani ‘mengetam’, dan bongkar-bongkar ‘membongkar’. Dalam ungkapan tersebut juga terdapat kata majemuk berjumlah 10, yaitu gotong royong, kembang setaman ‘bunga setaman yang biasanya terdiri atas bunga mawar, kenanga, dan melati’, jajan pasar ‘makanan yang biasanya dijual di pasar’, tukon pasar, dewi sri ‘sebutan untuk padi bagi petani di daerah Japanan’, palawija ‘tanaman petani yang dapat dikonsummsi selain padi’, temu ireng, temu giring, temu lawak, dan ranatamangsa ‘penentuan atau penetapan bulan’ atau ‘perhitungan musim yang terperinci sesuai dengan gejala alam dan kehidupan yang ada di lingkungan petani’.
Dalam kehidupan sebagai komunitas petani tradisional banyak di antaranya yang memanfaatkan ekologi sekitarnya, dengan merawat hubungan yang harmonis tidak hanya antara dirinya dengan alam, pencipta, dan manusia, selain peduli terhadap kesetiakawanan sosial di dalam masyarakat. Hal itu dapat berarti merevitalisasi kearifan local (Ahimsa-Putra, 2007). Inti yang ingin diamati dalam penelitian serupa itu adalah tentang manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Perlu dikumpulkan fakta tentang berbagai aspek kebudayaan, misalnya yang bersifat mental, menyangkut pola pikir, pandangan dunia, kesetiakawanan sosial dan saling menghormati, yang bersifat material seperti bentuk-bentuk pertanian, alat-alat yang digunakan, kalender tradisional yang mengatur pola kerja tahunan, musiman, bulanan, harian, bagian dari satu hari. Yang menjadi pusat perhatian adalah bahasa dan pola budaya. Pengetahuan tradisional perlu direkam, didalami, dan dikaji, seperti yang dimiliki komunitas petani. Pengetahuan masyarakat (kognisi) itu dipandang berguna pada masa modern ini karena mengutamakan ekologi, hubungan serasi antara pencipta, manusia, dan alam, serta menekankan kesetiakawanan alam masyarakat, atau revitalisasi kearifan lokal. Inti penelitian terhadap masyarakat petani tradisional itu adalah tentang manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat tradisional pada prinsipnya cenderung bersifat kolektif mengutamakan persaudaraan, kebersamaan, kerjasama, gotong royong, saling menghormati, dan saling berbagi (share). Hal-hal tersebut dewasa ini dirasakan semakin langka karena orang modern menonjolkan individualisme dan kurang memperhatikan ekologi, baik ekologi alam maupun ekologi sosial dan ekologi pikir.
Di antara kelompok masyarakat Jawa yang tinggal di daerah perkotaan dan di daerah terpencil agaknya terdapat perbedaan yang menarik dalam mengkonsumsi menu khusus lauk pauk jenis hidangan laut seperti ikan laut, udang, cumi-cumi, kerang, dsb. Konsumsi jenis makanan khusus itu dinilai tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan gizi mereka sehari-hari, tetapi terkait dengan lingkungan alam sekitarnya. Di lingkungan alam yang kritis dengan tantangan geografis yang bergunung-gunung bagi kebanyakan anggota masyarakat yang tinggal di pedesaan, pada umumnya lebih memilih jenis menu tradisional seperti: tempe dan tahu, untuk dikonsumsi dan berkaitan pula dengan selera utama mereka untuk mengkonsumsi “makanan rakyat” itu jika dibandingkan dengan jenis lauk pauk yang tergolong jenis iwak ‘ikan’ yang lebih mahal pula harganya.
Berbagai jenis ikan, seperti diakui mereka baunya lebih amis dibandingkan dengan jenis lauk pauk tradisional itu. Salah seorang nara sumber bahkan menjelaskan bahwa di antara jenis hidangan lauk pauk “makanan laut (seafood)” jenis ikan (asal segara kidul) diakui kurang begitu sesuai dengan selera karena berbau lebih amis, dibandingkan dengan berbagai jenis iwak kalen (‘ikan air tawar’) atau iwak tambak (‘ikan air payau’), yang sama dengan bermacam daging lain sekalipun. Bagi penutur bahasa Jawa umumnya, yang termasuk ekspresi linguistik yang bermakna ‘ikan’ yaitu kata iwak bukan hanya yang mencakup jenis iwak kalen ‘ikan air tawar’ (di antaranya yang dikenal seperti iwak wader, tawes, gurame, nila, atau tombro dsb.), atau iwak laut ‘ikan air laut’ (yang dikenal seperti tenggiri, kakap, belanak, lodang, tongkol, tuna, pari, cucut, madidihang, layaran, dsb.). Demikian pula, iwak tambak ‘ikan air payau’ (seperti iwak bandeng). Akan tetapi yang menarik pula adalah bahwa di dalam jenis iwak termasuk pula semua jenis “daging” meliputi daging unggas seperti iwak pitek, iwak bebek, iwak
banyak dan semua daging dari jenis ternak atau hewan liar lainnya seperti: iwak sapi, iwak kebo, iwak jarang, iwak babi, iwak celeng, iwak wedus, iwak jarang, bahkan iwak kobra atau iwak boyo dan lain-lain. Dari ekspresi linguistik yang dinyatakan oleh penutur bahasa Jawa tsb., tampak bahwa klasifikasi taksonomi penutur bahasa Jawa terhadap kata iwak ‘ikan’ bersifat khas apabila dibandingkan dengan penutur bahasa Melayu (Indonesia). Bagi penutur bahasa Melayu (Indonesia) ikan mempunyai makna budaya yang berbeda dibandingkan dengan penutur bahasa Jawa.
Tampaknya bagi penutur bahasa Jawa ciri utama kata iwak terkait dengan kategori yang menyangkut rasa, bau atau selera yang cenderung dihindari untuk dikonsumsi karena tidak tahan akan bau ‘amis”. Berdasarkan kategori itu semua jenis lauk pauk dengan berbagai wujudnya seperti diuraikan di atas yang diungkapkan dalam
kategori kata iwak mengandung perluasan makna, tidak sebatas yang biasa hidup di air saja tetapi juga meliputi (daging apa saja) dari semua binatang yang hidup di darat termasuk juga dari jenis amphibi. Penutur bahasa Melayu mengklasifikasi ikan dengan kategori yang berbeda daripada peutur bahasa Jawa karena terbatas pada kategori jenis ikan dengan satu makna saja, yaitu sebatas oleh jenis binatang tertentu yang berenang di air laut, air sungai, atau pun di air payau. Oleh karena itu, lebih banyak nama jenis ikan laut yang dikenal dibandingkan nama jenis ikan yang dikenal penutur bahasa Jawa. Karena itu pula, maka kebiasaan (selera) mengkonsumsi jenis lauk pauk tsb. pada orang Melayu umumnya pun jauh lebih tinggi, dibandingkan dengan kebiasaan mengkonsumsi lauk pauk jenisi itu pada orang Jawa. Dengan demikian, ada alasan yang dapat menjelaskan mengapa orang Jawa di daerah pinggiran atau pedesaan, lebih sukai mengkonsumsi hidangan lauk pauk tradisional seperti tahu dan tempe dibandingkan dengan ikan.
4. Simpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, tampak bahwa pada masyarakat petani yang diteliti dapat diketahui kearifan lokal masyarakat Jawa melalui ranah bahasanya yang diperlihatkan melalui kategori dan ekspresi linguistiknya dengan keragaman bentuk bahasa yang dapat diamati.
Dalam kekayaan mitosnya, tercermin relasi masyarakat petani dengan ekologi alam makro dan mikrokosmos, relasi serasih yang terjalin secara vertikal dengan dunia supranatural dan secara horisontal dengan sesama warga masyarakat. Dalam kategori dan ekspresi linguistik seperti tampak pada kosa kata serta paduan kata misalnya, tampak pola pikir dan pandangan hidup petani yang terekam dalam makna yang terjalin secara tersirat maupun tersurat mengklarifikasi kemampuan pemilik budaya akan system pengetahuan (kognisi) yang terekam dalam bahasa sebagai bagian integral dari kebudayaan.














DAFTAR PUSTAKA

Fernandez, Inyo Yos 2008 ”Kategori dan Ekspresi Linguistik Dalam Bahasa Jawa Sebagai Cermin Kearifan Lokal Penuturnya: Kajian Etnolinguistik Pada Masyarakat Petani dan Nelayan” Vol. 20, No. 2, Desember 2008: 166-177.
Haryanti, Dwi dkk 2007 “Ungkapan Etnis Petani Jawa di Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten: Kajian Etnolinguistik” Vol. 19, No. 1, Juni 2007: 35-50.
Laudra, Multamia RMT 2002 “Reevaluasi Konsep Pemilah Bahasa dan Dialek Untuk Bahasa Nusantara” Vol. 6, No. 1, Juni 2002: 37-44.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar